Postingan

Sebuah Kafe

Ia adalah tempat bertandang sesaat aku dirundung kesepian tak hanya aku, dalam hidup kita bertugas melawan kealpaan. Tak ada yang lebih menyebalkan selain berdamai dengan keganjian  yang mengajak aku tersenyum melihat daun-daun berguguran. Seperti lentera malam Kenyataan yang berat kopi hitam yang pekat adalah nikmat yang sepakat.

Catatan: Salah Penisbatan

Ketika berbicara mengenai "kammiah" (genus kuantitatif), Syekh Rakhawi mengutip beberapa  pendapat berikut argumentasinya dari dua filosof besar Yunani, yaitu Aristo dan Plato. Menariknya beliau tidak sekedar menampilkan apa saja ide yang disampaikan kedua filosof itu. Beliau juga menekankan bagaimana corak filsafat keduanya. Dalam hal ini, Aristo beserta para pengikutnya (para filosof paripatetik) oleh Al Rakhawi disebut sebagai para pemikir yang menghasilkan ilmu dengan menggunakan nalar-argumentatif ( al massyain fi al 'ilmi bi al sa'yi al dzahir). Sedangkan Plato dalam aliran filsafatnya digolongkan kepada al Hukama al Isroqy, yakni para filosof yang mendapatkan ilmu pengetahuan dengan pencerahan batin yang digapai dengan jalur riyadloh. Dengan mengikuti pendapat tersebut, bisa disimpulkan pula secara sederhana bahwa aliran filsafat Aristo adalah aliran akal budi, dan aliran filsafat Plato adalah aliran pencerahan hati. Berarti pada keduanya terdapat perbedaan yan...

Saliman

Sudah telat beberapa menit, tapi alhamdulillah masih sempat mengikuti pengajian (pensyarahan) kitab Ihya bersama Syekh Muhanna yang dimulai hari ini. Disamping itu, satu hal yang paling membuat saya plong adalah bisa saliman dan mencium tangan beliau. Meskipun saya tak begitu yakin kalau saya paham semua yang dijelaskan beliau. Seperti biasanya. Ingat dulu pas masih kecil. Saat itu saya diajak orang tua menghadiri haul seorang Kyai Musyid Tarekat Naqsyabandiah di daerah malang. Saat itu yang menghadiri haul Kyai adalah putra beliau (rahimahumulloh) yang menjadi penerus (mursyid). Singkatnya, setelah pulang ke rumah orang tua saya bertanya kepada saya: " Tadi malam sudah saliman ke Kyai? " Saya jawab belum. Mendengar itu orangtua saya langsung marah besar. Dan saya pun sangat takut. Dengan nada marah beliau berkata: " Kok bisa gak saliman. Wong intinya sebenarnya ya disitu! " Semenjak kejadian itu, yang paling saya utamakan dalam sowan kepada Kyai dan guru saya ada...

Kalut

Menurut Imam Syafi'i ada tiga hal yang dibutuhkan oleh seorang pencari ilmu: khusnu dzatil yad, masa yang panjang dan kecerdasan. Pas lagi kacau-kacaunya, kemarin saya menemukan maqolah ini dalam kitab hilyatul auliya. Dan bagi saya, apa yang dikatakan Al Syafii tersebut adalah obat. Itu saja. _____ Hidup adalah kata sang pengembara Mencari makna kepada pohon yang bersemi Daun yang berguguran Pada laut yang dalam, demi Sebongkah permata yang tenggelam Sekumpulan arti yang terpendam Oleh karena itu kata yang tak pernah meneguk getirnya perjuangan Ialah hidup yang akrab bagi para pecundang.

Suatu Fase

Saya pernah mengalami masa-masa dimana sudah merasa seperti kritikus besar yang bisa memikirkan dan mengkritik apa saja. Tapi disaat yang sama, saya malah malas bekerja, malas belajar dan malas membaca, karena beranggapan dengan akal yang saya miliki (yang sempit ini) sudah cukup untuk merumuskan keadaan. Saat itu pola pikir saya sangat pragmatis. Sedikit berusaha tapi maunya cepet "jadi" dan pingin segera "berkiprah". Tapi akhirnya datanglah sebuah fase yang menuntut saya untuk bertobat dari pola pikir tersebut, karena (menurut pengalaman saya) hal semacam itu tidak menghasilkan apa-apa selain kegelisahan, serta semakin jauh dari kualitas yang memuaskan. Dan itu sangat menyebalkan!

Ujian Azhar

 Hari ini adalah hari terakhir ujian termin dua di Azhar. Apakah saya akan naik ke tingkat kedua? Saya belum tahu. Yang pasti saya belajar banyak hal dari tahun pertama saya kuliah di azhar ini.  Sedikit hal yang barangkali perlu untuk saya tulis, sebagai catatan pribadi saja, adalah pengalaman bahwa saya tidak pernah masuk kuliah selain pas ujian saja. Sistem perkuliahan di Azhar memang seperti itu. Mahasiswa tidak diwajibkan untuk mengikuti muhadloroh yang disampaikan oleh Duktur di kampus. Kita diberi kelonggaran untuk mencari guru ( talaqqi) atau mengembangkan minat keilmuan masing-masing. Kembali ke cerita awal. Sebenarnya tidak mengikuti muhadloroh  di kampus bukanlah tidak memberikan dampak, tapi justru sangat mempengaruhi kedisiplinan seorang mahasiswa terhadap pelajaran ( muqarrar) yang ditetapkan oleh Azhar. Dan itu sangat saya rasakan dalam diri sendiri.  Selain teledor, alasan kenapa saya tidak pernah kuliah adalah karena saya tidak mempunyai muqarrar ...

Kalah

Kata yang paling kalah adalah menyerah yang hanya tertulis tuk para pesimis.