Postingan

Sebuah Pembacaan Maqashid 2

Dalam bukunya tersebut, Dr.Hisyam membagi pendapat para ulama yang berhubungan dengan pro-kontra ta'lil ke dalam tiga golongan.  Pertama yaitu pendapat Muktazilah yang mengatakan bahwa ahkamulloh mempunyai alasan. Mereka berkata: " Sesungguhnya tidak patut (qabih) bagi Alloh Swt untuk melakukan hal-hal yang tidak patut atau suatu kesia-siaan ('abats), melainkan apa yang Dia lakukan harus mengandung kemaslahatan dan tujuan." Kedua adalah pendapat Asya'iroh, Dzahiriyah, Jahmiyah dan selainnya yang menolak paham ta'lil. Mereka berkata: "Sesungguhnya  af'alulloh dan ahkamulloh tidak bisa dita'lil. Berarti amr-Nya tidak mempunyai illah dan hikmah." Ketiga adalah pendapat kebanyakan fukaha dari ahlus sunnah yang mengatakan bahwa af'alulloh dan ahkamulloh tidak dita'lil secara wajib. Melainkan lebih mengarah kepada melimpahkan anugerah dan kebaikan. Pendapat inilah yang konon diikuti oleh kebanyakan asy'ariyah." Dari pembagian diata...

Membaca Maqoshid Dari Perspektif Teologis

Diskusi ilmiah yang digelar oleh Komunitas Kajian SASC Nu Mesir tadi membawakan tema yang menarik, yaitu tentang "Polemik Konfigurusi Maqashid Syariah".  Bagi saya pribadi, maqashid syariah sangat menarik untuk dikaji. Diantara penyebebnya adalah karena saya yang selama ini tertarik dalam kajian-kajian filsafat, merasakan ada relasi yang kuat antara Etika dan Maqashid Syariah.  Yang menjadi titik tekan adalah sebatas mana baik-buruk, kemaslahatan dan kemudaratan itu dimengerti dan diterapkan nilai-nilai esensialnya. Ketika filsafat etika menyuarakan nilai baik-buruk hanya murni bertolak dari perspektif akal budi, dan terkesan menjauhkan diri dari otoritas agama, senagaimana ia berasal dari Yunani. Tapi berbeda dengan maqashid syariah yang berfungsi menjabarkan "maslahat-mafsadah" yang dikelola melalui dua sisi secara bersamaan: agama (syariat) dan akal budi. Sebagai anggota kajian, saya berusaha ikut rembug atau sharing ide agar pembahasan ilmiah tersebut semakin hi...

Pegon dan Jawanisasi

Dalam sebuah obrolan, teman saya yang mempunyai basic pesantren modern bertanya kepada saya: mengapa pondok salaf memegang erat tradisi "maknani", alias mengajarkan kitab-kitab kuning dengan bahasa arab pegon, bukankah hal semacam itu bisa diartikan dengan praktik "jawanisasi"?  Sebagai "santri salaf" sebenarnya saya agak kesal dengan pertanyaan semacam itu. Tapi di satu sisi saya santai karena memaklumi bahwa teman saya "sepercangkruan" itu memang cerdas. Sebab kecerdasan itulah akhirnya ia tak bisa memilih jalan lain selain kritis, dan selalu ingin menggali dan mempersoalkan segala hal. Kadang saya jengkel dan sebel untuk meladeni pikiran liarnya, yang kalau tidak di stop bisa jadi dalam sehari penuh saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya. Tapi sebagai sahabat, saya pun senang dan merasa bangga. Satu hal yang sering saya tekankan kepada dia, sebagaimana pesan para senior kepada saya, bahwa orang tidak cukup hany...

Kita, Realitas dan Batas Kebenaran

Tadi malam, baru beberapa menit saya tiba di rumah setelah berjam-jam belanja dan ngafe, tiba-tiba teman saya menghubungi saya untuk menemui dirinya di sebuah kafe. Saya sebenarnya agak lelah, tapi berhubung dia mau pulang ke Indo, saya pun berusaha memenuhi panggilannya itu. Kita pun ngopi bareng, nyisah, dan ngobrol ngalur ngidul gak jelas. Tapi diselang-selang obrolan yang gak terstruktur itu, ada beberapa poin yang tak lepas dari pembahasan kami. Di antaranya pertanyaan dia kepada saya bagaimana pandangan subjektif saya mengenai filaafat, ilmu kalam, dan teori-teori yang melangit kita pelajari selama ini. Bukannya di masyarakat yang lebih dibutuhkan adalah "para penceramah" atau kyai yang berbicara fikih, hadis, dan tafsir? Lalu buat apa kita belajar filsafat atau teori-teori yang rumit-rumit itu?  Saya sepontan menjawab, memang benar kalau relasi atau relevansi antara teori-teori dan realitas selalu menyita perhatian kita untuk dibahas. Tema semacam ini tak henti-henti k...

INGINKU

Di sebuah kafe Aku ingin melakukan apa saja  di sana: melupakan seluruh ingatan  yang justru membuat aku lupa mengapa aku sedemikian pongah Di sebuah kafe seperti engkau kan, Yah Kau tak ingin kita berbicara pedihnya dunia Kau lebih senang memikirkannya sendirian duduk diatas segenap keyakinan esok masih ada sinar matahari akan dilukiskan hujan, pelangi, dan janji-janji.

Berguru Kepada Ahmad Tohari

Setiap waktu yang kita miliki adalah anugerah. Yang berlalu tak bisa diulangi. Sedangkan yang akan datang pun tak kunjung pasti. Maka yang pantas untuk diperjuangkan dan diisi dengan hal-hal yang positif, bermanfaat dan membangun adalah masa kini. Tapi yang menyebalkan adalah bahwa kita (atau aku saja) tak senantiasa sadar akan waktu-waktu yang dimiliki. Membiarkan semua berlalu tanpa ada jejak-jejak yang bernilai.  Kerjaanku kalau sedang gak produktif ya ngelihat orang-orang yang sukses. Seperti Ahmad Tohari misalnya. Secara kasat mata, beliau itu sederhana. Perawakannya tegap, modelnya gak aneh-aneh, simpel, tapi sangat bersahaja. Quote beliau yang paling saya sukai adalah:  "Dalam hidup ini banyak sekali hal yang perlu kita persaksikan dan kita catat sebagai kekayaan batin dan kekayaan intelektual generasi-generasi mendatang." Jadi dari Ahmad Tohari, kita bisa belajar bahwa setiap kita, khusunya generasi muda mempunyai tugas dan andil yang sangat besar dalam eksistensi sej...

SIBUK MENCARI TAPI LUPA APA YANG DIMILIKI

Ceritanya sedang nyari buku puisi Abdul Wahab Masiri. Berselancar di internet, sudah ketemu pdf, pas didownload gak bisa2. Ternyata senggang beberapa waktu, aku sadar kalau justru aku sudah punya buku aslinya cetakan darus syuruq. 😅 Terus kejadian (pekok) itu saya ceritkan ke saudara AAN Rab'ah. Dia ketawa.  Tapi dia punya cerita sendiri. Katanya kejadian tersebut mirip dalam sebuah cerpen.  Ceritanya ada orang kaya raya yang hobinya membeli rumah baru. Terus di suatu perjalanan dia menjumpai sebuah rumah yang mewah. Orang tersebut akhirnya tertarik dan berniat untuk membeli rumah itu. Lalu dia bilang ke asistennya agar si asisten membeli rumah itu. Setelah mencari tahu siapa pemilik rumah tersebut, si asisten pun menghadap ke si bos. Dia memberi tahu kalau ternyata si Pemilik Rumah Adalah si Bos sendiri. ~cerita selesai. Cerita ini sengaja ditulis sebagai siasat mengadakan kegiatan kecil-kecilan sambil menunggu nasi yang "diliwet" matang. * Judul dari Sdr. Aan Rab'a...