Dialog Dan Toleransi


Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan dalam ruangan



DIALOG DAN TOLERANSI

Di Gorontalo, dua makam digali dan dipindahkan hanya gegara beda pilihan caleg. Di media sosial kian bertebaran ujaran-ujaran kebencian: gara-gara beda pandangan keagamaan dengan sangat mudah seorang ulama dikatai munafik, bahkan iblis, padahal sama-sama islamnya. Ya, suasana sosial-agama kita saat ini memang lagi tegang. Mulai dari makian, sampai tindakan ekstrim pun siap dilakukan cukup dengan alasan "beda pandangan".
Lalu ada yang mengaitkan semua ini dengan masalah politik. Betul juga, tapi bisa jadi salah. Menurut saya isu politik itu hanya sekadar "angin" yang bisa datang dan pergi kapan saja. Ada yang lebih mendasar dari itu, barangkali yang menjadikan kita saat ini mudah disorong kesana kemari dan "digoreng" dengan isu-isu yang sekedar angin itu adalah karena nihilnya prinsip nalar-krtits dalam masyarakat kita. Ditambah model beragama yang lagi "tren" saat ini adalah beragama yang empiris dan cenderung simbolik-- dan puncak dari empirisme adalah egoisme, karena hakikat fisik yang paling dekat dengan manusia adalah "diri"-nya sendiri.
Imbasnya saat ini orang-orang tak lagi mengenal tradisi dialog yang arif, dan semakin menjauh dari apa yang kita sebut dengan toleransi. Pada akhirnya perbedaan tak berarti lagi; yang tak sependapat dengan pandangan-"nya" harus salah, kalau perlu digali makamnya, atau dikafir-kafirkan dan di iblis-ibliskan, meskipun sesama islam.
Kita tak perlu menyebutkan semua contoh masalah satu persatu. Kita cukup merasakannya sendiri-sendiri tentang apa yang sebenarnya tejadi. Islam yang begitu agung dan luasnya-- bahkan menjadi mayoritas dalam negara kita Indonesia-- faktanya begitu terasing--khususnya dikota-kota besar-- dan dibuat sekat-sekat oleh apa yang disebut dengan "perbedaan". Entah kenapa saya berpikir bahwa apa yang dikatakan Syakib Arslan ( 1869-1946) benar. Dalam bukunya " limadza taakhoro al-muslimun wa taqoddama ghoiruhum" beliau mengupas panjang lebar kenapa dulu umat islam begitu maju, tidak untuk sekarang. Kini kita cukup mengenang masa lalu. Ia tak lebih dari sekedar dongeng yang terus menerus diulang saat menjelang tidur: cerita-cerita masa lalu memang mempesona, kita pun terlelap. Menurutnya saat ini kita tidak memiliki apa yang dimiliki kaum muslimin terdahulu, dan kini " keimanan hanya meninggalkan namanya saja, keislaman hanya menyisahkan alamat, al-quran hanya untuk didendangkan, tanpa mengamalkan perintah dan larangannya."
Syakib Arslan menyangsikan eksistensi Islam yang sebatas nama dan kuantitas. Dalam Al-Quran memang disebut perihal keluhuran Iman seperti firman-Nya:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ [المنافقون: ٨]
Tapi cukup aneh ketika keluhuran tersebut tanpa didasari "isi" berikut nilai-nilai yang menjadi alasan untuk patut diperjuangkan: sebuah proyek perubahan universal. Berubah dari kedzaliman menjadi keadilan, dari kecelakaan menjadi keselamatan, dari ketakutan menjadi keamanan, dari kegelisahan menjadi kedamaian, dari ketertinggalan menjadi kemajuan, dan dari yang fana ke yang hakiki.
Alloh Swt berfirman:
" Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." [Surat Ar-Ra'd ayat 11]
Untuk menuju perubahan yang bisa mengantarkan pada kedamaian dan kesejahteraan bersama, mula-mula kita harus berjalan jauh menuju kedalaman nurani kita masing-masing. Oleh karena itu kita mebutuhkan dialog agar lebih mengerti tentang satu "diri" dan "yang lain", lalu membuang egoisme sejauh mungkin. Dan demi tercapainya tujuan, kita butuh berjalan bersama-sama.
Rupanya untuk memiliki rasa toleransi-- tak harus merasa paling selamat dan paling "surgawi" sendiri-- kita harus belajar kepada Imam Syafii yang mengatakan: "Pandangan kami benar, tapi mungkin salah. Pandangan selain kami salah, tapi mungkin benar! "
Syekh Muhammad Abduh juga mengatakan: " Telah masyhur dikalangan muslimin serta kaidah-kaidah keagamaannya bahwasannya ketika keluar suatu ucapan dari seorang muslim yang memungkinkah kekafiran dari seratus jalan, tapi masih mengindikasikan keislaman meskipun hanya dari satu jalan saja, maka yang harus diambil adalah jalan keislaman. Dan tidak boleh dikatakan kafir."
Beliau melanjutkan:
" Adakah engkau melihat toleransi sebagaimana ajaran para Filosof dan para bijak bestari yang lebih luas (pemaknaannya) dari ini? "
Darb al-Ahmar 29.01.19
Referensi: al hiwar wat tasamuh li Duktur Mahmud Hamdi Zaqzuq fi kitabihi "al fikr ad dini wa qodloya al-'ushr".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Memoir Februari- Mei

Hapuslah Kesedihanmu

Apakah Agama itu Sederhana?