# suatu pagi dunia terbangun cepat sekali kami pun duduk bersama menikmati kopi tak kusangka, tiba-tiba ia bercerita padaku memberi tahu asal usul kesakitan itu bahwa semua berawal dari percaya akan cinta yang tak ada, sahabat yang tak ada, pada hidup yang tak ada, pada makna yang tak ada: segala tentang tiada yang disangkanya ada. 21.02.21 # Diam-diam aku meyakini bahwa setiap yang berhati bermimpi untuk bertemu seseorang yang menyerahkan hatinya secara gila-gilaan, mengeluarkan kata-kata yang tak bisa lagi diuraikan dengan lisan. Bahkan untuk mengucapkan terimakasih saja kepadamu aku tak berani dan teramat malu. Ucapan maaf pun kupikir tak pantas kau menerima itu. Mungkin cara terbaik bagi kita adalah bersama-sama terdiam, masing-masing merelakan waktu tenggelam menjelma malam, menyembunyikan semua ingatan di balik senyum bintang-bintang dan tangisan rembulan, lalu dengan lirih kita panggil-panggil angin yang membawa musim semi dan merayunya agar ia...
Setelah membaca buku karya Nashr Hamid Abu Zaid yang berjudul "al tajdid wa al tahrim wa al ta'wil" saya merasa sangat kebingungan. Khususnya ketika dia berbicara mengenai pembaharuan keilmuan islam. Kenapa harus ada pembaharuan? Alasannya sederhana. Karena secara karakteristik undang-undang kehidupan selalu berubah, maka pandangan kita dalam konteks agama harus ikut berubah pula. Baginya, tidak bisa disebut pembaharuan jikalau apa yang kita lakukan hanya sebatas pengulangan terhadap pemikiran yang bersifat klasik, yang pernah diucapkan "di masa lalu". Saking banyaknya kritikan yang ia lontarkan, sebagai pembaca yang berusaha obyektif, saya tidak ingin memihak ke salah satu pihak: Nashr Hamid dalam beberapa poin terkesan memihak ke muktazilah, dan sering menyerang paham-paham asy'ariyah. Saya bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh seorang Nasr Hamid sebenarnya. Terkhusus ketika ia berbicara Al Quran sebagai sebuah diskursus ( al quran biwasfihi khitoban)....
TEKSTUALIS Keberadaan sebagian kelompok islam yang mengatakan "umat islam harus kembali ke Al-Quran dan Al-Hadits " menurut saya cukup "berlebihan". Berlebihan disini maksudnya adalah antara teori dan praktik dalam realitasnya tidak sinkron, alias "gak genah". Tapi sudahlah, tidak usah dibahas, buang-buang waktu dan kuota. Tapi ada statement lain yang menurut saya tak kalah ngawur dan menyesatkan daripada statement tadi. Yaitu statement yang mencukupkan kita umat islam untuk kembali ke Al-Quran "saja", tanpa Al-Hadits. Menurut mereka, Al-Quran itu diturunkan sebagai penjelas atas segala hal yang dibutuhkan oleh manusia. Oleh karena itu orang islam tidak perlu susah payah mempelajari hadis-hadis Nabi, karena sudah dicukupkan dengan Al-Quran. Menariknya, untuk mendukung logikanya yang menyimpang, mereka tidak sungkan-sungkan menjadikan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran sebagai dalil, seperti surat al-ankabut ayat 51, su...
Komentar
Posting Komentar