# suatu pagi dunia terbangun cepat sekali kami pun duduk bersama menikmati kopi tak kusangka, tiba-tiba ia bercerita padaku memberi tahu asal usul kesakitan itu bahwa semua berawal dari percaya akan cinta yang tak ada, sahabat yang tak ada, pada hidup yang tak ada, pada makna yang tak ada: segala tentang tiada yang disangkanya ada. 21.02.21 # Diam-diam aku meyakini bahwa setiap yang berhati bermimpi untuk bertemu seseorang yang menyerahkan hatinya secara gila-gilaan, mengeluarkan kata-kata yang tak bisa lagi diuraikan dengan lisan. Bahkan untuk mengucapkan terimakasih saja kepadamu aku tak berani dan teramat malu. Ucapan maaf pun kupikir tak pantas kau menerima itu. Mungkin cara terbaik bagi kita adalah bersama-sama terdiam, masing-masing merelakan waktu tenggelam menjelma malam, menyembunyikan semua ingatan di balik senyum bintang-bintang dan tangisan rembulan, lalu dengan lirih kita panggil-panggil angin yang membawa musim semi dan merayunya agar ia...
Setelah membaca buku karya Nashr Hamid Abu Zaid yang berjudul "al tajdid wa al tahrim wa al ta'wil" saya merasa sangat kebingungan. Khususnya ketika dia berbicara mengenai pembaharuan keilmuan islam. Kenapa harus ada pembaharuan? Alasannya sederhana. Karena secara karakteristik undang-undang kehidupan selalu berubah, maka pandangan kita dalam konteks agama harus ikut berubah pula. Baginya, tidak bisa disebut pembaharuan jikalau apa yang kita lakukan hanya sebatas pengulangan terhadap pemikiran yang bersifat klasik, yang pernah diucapkan "di masa lalu". Saking banyaknya kritikan yang ia lontarkan, sebagai pembaca yang berusaha obyektif, saya tidak ingin memihak ke salah satu pihak: Nashr Hamid dalam beberapa poin terkesan memihak ke muktazilah, dan sering menyerang paham-paham asy'ariyah. Saya bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh seorang Nasr Hamid sebenarnya. Terkhusus ketika ia berbicara Al Quran sebagai sebuah diskursus ( al quran biwasfihi khitoban)....
Sekitar jam sepuluh malam saya terbangun dari tidur. Saya langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka. Lalu saya nyalakan kompor buat masak air. Beberapa menit kemudian teh panas sudah mengepul. Saya nyalakan lampu kamar, akhirnya ritual ngeteh (bahasa mesirnya "ngeshay" pun dimulai, tak lupa dibersamai Ibnu Arobi dengan "fushus al hikam" nya. Menit demi menit berjalan cukup hikmat. Sekitar sejaman berlalu, saya merasa kayak ada yang kurang. " oh, ya, syisa! " Setelah melewati "birokrasi" yang agak lumayan, karena harus beli arang yang sudah habis, dan untuk mendapatkannya saya harus turun-naik tangga dari lantai enam. Akhirnya semua sudah "ready", alias " nyepak". Lampu rumah saya matikan semua, dan cuman lampu teras saja yang saya nyalakan. Gitu pun agak redup. Oke, di situlah tempat saya melanjutkan ritual ngeshay dan nyisah. Sambil ngebul dan nyeruput teh, saya menikmati suasana malam dan pemandangan kota kairo yang khas...
Komentar
Posting Komentar